ICCLR Gelar 3R #53: Tingkatkan Pemahaman Probabilitas Siswa Melalui Self-Explanation dan Praktik Berbasis Contoh
ICCLR Gelar 3R #53: Tingkatkan Pemahaman Probabilitas Siswa Melalui Self-Explanation dan Praktik Berbasis Contoh
Pusat Unggulan IPTEKS Indonesian Center for Cognitive Load Research (ICCLR) kembali menunjukkan komitmennya dalam membedah literatur akademik melalui program "Read, Review, Research" (3R). Pada edisi ke-53 ini, kegiatan diselenggarakan secara virtual melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu (2/5/2026) dan dihadiri oleh akademisi dan mahasiswa yang antusias mengembangkan inovasi pembelajaran matematika.
Topik bahasan pada seri ini berfokus pada strategi kognitif dalam mengajar, khususnya pada materi peluang (probabilitas) bagi siswa yang memiliki kemampuan penalaran proporsional yang masih rendah. Tim ICCLR secara mendalam mengkaji artikel jurnal internasional bereputasi berikut:
"Could Probability be Out of Proportion? Self-Explanation and Example Based Practice Help Students with Lower Proportional Reasoning Skills Learn Probability"

Sesi telaah kritis ini dipandu secara interaktif oleh Pratama Wahyu Purnama, M.Pd. selaku moderator. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, ICCLR menghadirkan dua narasumber, yaitu Chief Scientist of ICCLR, Endah Retnowati, Ph.D., bersama dengan Muhammad Luthfi Wildani.
Dalam diskusinya, kedua narasumber mengelaborasi temuan bahwa kombinasi antara instruksi yang mendorong siswa untuk menjelaskan pemahaman sendiri (self-explanation) dan latihan berbasis contoh (example-based practice) sangat efektif menjembatani kesulitan belajar probabilitas. Pendekatan ini terbukti mampu memfasilitasi beban kognitif siswa (germane load) secara optimal, sehingga siswa dengan kemampuan awal yang rendah tetap dapat memproses informasi dengan baik dan mencapai hasil belajar maksimal.
Program diskusi rutin 3R yang bersifat gratis ini terus menjadi wadah andalan ICCLR dalam mendiseminasikan kajian sains instruksional. Melalui kegiatan ini, ICCLR berharap para pendidik dapat mulai mengadaptasi strategi worked examples dan self-explanation untuk menciptakan desain pembelajaran yang lebih inklusif di ruang kelas.